• RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter

Minggu, 10 Juli 2011

Cerita Memek Kontol Ngewe Bagian ke-2 | Aku, Mamaku, dan Mama Temanku

Cerita Memek Kontol Ngewe Bagian ke-2 | Aku, Mamaku, dan Mama Temanku
Bagi agan yang belum membaca cerita sebelumnya, ga seru kalo belum membaca Cerita Memek Kontol Ngewe | Aku, Mamaku, dan Mama Temanku bagian pertama. Dimana dibagian pertama Farman telah sukses menggarap (ngentot) memek mama sohibnya sendiri si-Komenk. Nah di sini, Cerita Memek Kontol Ngewe Bagian ke-2 Aku, Mamaku, dan Mama Temanku, giliran si-Komeng garap memek mamanya si-Farman. Emang udah gila ni zaman, Enjoy dah cerita memek kontol ngentot nya ya!

Sejak peristiwa persetubuhan Firman dan Mamaku itu, aku jadi tahu kemana perginya si Farman, tiap bolos sekolah tanpa mengajakku. Belakangan memang Farman sering membolos tetapi tidak memberitahu dan mengajakku. Rupanya dia punya acara asyik ngentot dengan Mamaku. Tetapi yang membuatku kagum dan mengundang rasa ingin tahuku, bagaimana awal mulanya hingga ia bisa ngentot dengan Mamaku?

Untuk bertanya langsung padanya aku tidak berani. Takut dia jadi tahu bahwa sebenarnya perbuatannya dengan Mamaku telah diketahui olehku dan pertemananku dengannya jadi jarang. Lagian terus terang, kalau diberi kesempatan, aku juga ingin banget bisa bisa menikmati memek Mama ku. Juga ngentot dengan Mamanya Farman yang bodi dan keseksiannya nyaris sama dengan Mamaku jadi aku harus membina keakraban dengan Farman. Hanya untuk melangkah ke arah itu aku belum berani dan tidak punya pengalaman seperti Farman.

Belakangan, sejak mengetahui antara Mama dan Farman ada hubungan khusus, aku sering memberi kesempatan agar mereka bisa menyalurkan hasratnya secara lebih leluasa. Saat Farman main ke rumah, aku pura-pura punya acara dengan teman lain dan meninggalkan mereka. Padahal, aku malah ke rumah Farman dengan berpura-pura pada Mamanya hendak menemui dia. Hingga belakangan hubunganku dengan Mamanya Farman makin akrab dan aku bebas melakukan apa saja di rumahnya seperti halnya Farman di rumahku.


Seperti sore itu, di saat Farman main ke rumahku, aku juga berpura-pura punya janjian dengan pacarku untuk menghadiri acara pesta pernikahan. Padahal aku langsung ke rumah Farman.

“Tadi katanya ke rumah kamu Menk? Padahal udah dari tadi lho,” kata Mamanya Farman saat aku masuk.

Saat membukakan pintu, Mamanya Farman rupanya habis mandi. Tubuhnya basah dan hanya dibungkus handuk. Tetapi, handuk yang dipakai melilit tubuhnya sangat kekecilan. Hingga di bagian bawah hanya menutup sampai ke pangkal pahanya. Sementara teteknya yang besar menggunung tampak menyembul karena handuk itu tidak mampu menutup rapat bagian itu sepenuhnya.

Seperti halnya Mamaku, Mamanya Farman juga berbodi tinggi besar. Pantatnya besar membusung dengan pinggul yang mengundang. Hanya, kulit Tante Dian (Mamanya Farman) agak sedikit gelap. Tetapi kesemua bagian tubuhnya benar-benar merangsang hingga membuatku terpana menatapinya. Namun anehnya, kendati tatapanku terang-terangan tertuju pada pahanya yang menyembul dan bagian lain tubuhnya yang mengundang selera, ia seperti tak menghiraukannya.

Setelah mempersilahkanku masuk dan menutup pintu, dengan santai ia membereskan surat kabar dan majalah yang berserakan di ruang tamu. Posisinya yang agak membungkuk saat melakukan aktivitasnya itu menjadikan gairahku terpacu lebih kencang. Betapa tidak, karena handuknya yang kelewat kecil, bongkahan pantat besar tante diang kini benar-benar terpampang di hadapanku. Juga aku bisa melihat memeknya yang mengintip di antara pangkal pahanya.

Kuyakin itu disengaja. Karena ia seperti berlama-lama dalam posisi itu kendati surat kabar dan majalah yang dibereskan hanya sedikit. Ah ingin rasanya meremas pantat besar yang menggunung itu. Atau mengelus memeknya yang sepertinya habis bercukur. Kalau Farman, mungkin ia sudah nekad melakukan apa yang diinginkan. Tetapi aku tidak memiliki keberanian hingga hanya jakunku yang turun naik menelan ludah.
“Eh Menk, kamu ada acara nggak? Kalau nggak ada acara, tolong antar tante ya. Tante harus menagih ke orang tapi tempatnya jauh dan sulit kendaraan,” ujarnya setelah semua koran dan majalah tertata rapi di tempatnya.

“Bi... bi... bisa tante. Nggak ada acara kok,” kataku kikuk.
“Kalau begitu tante ganti baju dulu. Oh ya kalau kamu haus ambil sendiri di kulkas, mungkin masih ada yang bisa diminum,” ujarnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis namun sangat sulit kuartikan.

Satu buah teh botol dingin yang kuambil dari kulkas langsung kutenggak dari botolnya. Rupanya, tontonan gratis yang sangat menggairahkanku tadi membuat tenggorokanku jadi kering hingga teh botol dingin itu langsung tandas. Belakangan baru kusadari, ternyata Tante Dian tidak menutup kembali pintu kamarnya. Dengan bertelanjang bulat, karena handuk yang melilit tubuhnya telah dilepas, dengan santai ia memilih-milih baju yang hendak dikenakan. Maka kembali suguhan mengundang itu tersaji di hadapanku.

Bukan hanya pantatnya yang besar membusung. Payudara Tante Dian juga besar namun agak menggantung. Putingnya yang berwarna coklat kehitaman, terlihat mencuat. Ah ingin banget bisa membelai dan meremasnya atau menghisapnya seperti yang dilakukan Farman pada tetek Mamaku. Sebenarnya aku ingin banget melihat bentuk memek Tante Dian secara jelas. Namun karena posisinya membelakangiku, aku tak dapat melihatnya. Tetapi benar seperti kata Farman, tubuh Mamanya yang berambut sebahu itu masih belum kehilangan pesonanya sebagai wanita.

Setelah menemukan baju yang dicari dan berniat dipakainya, Tante Dian berbalik dan memergokiku tengah menatapi tubuh telanjangnya. Tetapi sepertinya ia tidak marah. Bahkan dengan santai, ia kenakan celana dalam di hadapanku. Hanya karena merasa tidak enak dan takut dianggap terlalu kurang ajar, aku segera meninggalkannya menuju ke ruang tamu untuk menunggunya.

Mamanya Farman meski telah bergelar hajah dan setiap keluar rumah selalu membungkus rapat tubuhnya dengan busana muslimah, namun masih menjalankan usaha yang tercela. Di samping bisnisnya sebagai pedagang perhiasan berlian, ia juga meminjamkan uang dengan bunga tinggi atau rentenir. Hanya kalau di rumah, pakaiannya sangat terbuka dan tidak sungkan-sungkan memamerkan tubuh indahnya seperti yang barusan dilakukan di hadapanku.

Rumah orang yang ditagih Tante Dian ternyata memang cukup jauh dan kondisi jalannya juga jelek. Untung orangnya ada dan memenuhi janjinya membayar hutang hingga Tante Dian terlihat sangat senang. Saat pulang, karena sudah malam dan kondisi jalan sangat jelek, beberapa kali motorku nyaris terguling. Karena takut terjatuh, Tante Dian membonceng dengan memeluk erat tubuhku.

Dengan posisi membonceng yang terlalu mepet, sepasang gunung kembar Tante Dian terasa menekan punggungku. Aku jadi membayangkan bentuknya yang kulihat saat ia telanjang di rumahnya. Hal itu membuatku terangsang dan menjadikan konsentrasiku mengendarai sepeda motor agak terganggu. Bahkan nyaris menabrak pengendara sepeda yang ada di hadapanku. Untung Tante Dian segera mengingatkannya.

“Menk karena kamu sudah mengantar tante, tante akan memberi hadiah istimewa. Tapi kamu harus menjawab dulu pertanyaan tante dengan jujur,” kata Tante Dian saat perjalanan hampir sampai rumah.
“Pertanyaan apa Tan?”
“Tadi waktu lihat tante telanjang di kamar, kamu terangsang kan?” katanya berbisik di telingaku sambil kian merapatkan tubuhnya.

Aku tak menyangka ia akan bertanya seperti itu. Aku jadi bingung buat menajawabnya. Harusnya kujawab jujur bahwa aku sudah sangat terangsang. Tetapi aku nggak berani takut salah. Sampai akhirnya, kurasakan tangan Tente Dian meraba bagian depan celana dan meraba Kontolku yang telah tegang mengacung. “Ini buktinya punyamu tegang dan mengeras. Pasti karena terangsang membayangkan tetek tante yang menempel di punggungmu kan?”

“Eee.....h..I....Iya tan,” kataku akhirnya menyerah.
“Nah gitu dong ngaku. Makanya cepet deh bawa motornya biar cepet sampai rumah. Kalau Farman belum pulang, nanti kamu boleh lihat punya tante sepuasmu,” ujarnya lagi sambil terus mengelus Kontolku.

Penawaran Mamanya Farman adalah sesuatu yang paling kudambakan selama ini. Maka langsung saja kupacu kencang laju sepeda motor seperti yang diperintahkannya. Mudah-mudahan saja Farman belum pulang hingga tidak membatalkan niat Tante Dian untuk memberi hadiah istimewa seperti yang dijanjikannya. Mudah-mudahan ia masih terus asyik menikmati kehangatan tubuh Mamaku seperti yang pernah kulihat.

Sampai di rumah, setelah tahu Farman belum pulang, aku diminta memasukkan sepeda motor dan menutup pintu.

“Setelah itu tante tunggu di kamar,” ujarnya.

Namun setelah semua perintahnya kulaksanakan, aku ragu untuk masuk ke kamar Tante Dian seperti yang diperintahkannya. Tidak seperti Farman yang telah berpengalaman dengan wanita setidaknya dengan pembantu di rumahnya dan dengan Mamaku, aku belum pernah melakukannya meskipun sering beronani dan membayangkan menyetubuhi Mamaku maupun Mamanya Farman. Hingga aku hanya duduk mencenung di ruang tamu menunggu panggilan Tante Dian.

Sampai akhirnya, mungkin karena aku tak kunjung masuk ke kamarnya, Tante Dian sendiri yang keluar kamar menemuiku. Hanya yang membuatku kaget, ia keluar kamar bertelanjang bulat tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.

“Katanya suka melihat tante telanjang, kok nggak cepet masuk ke kamar tante?” katanya menghampiriku.

Ia berdiri tepat di hadapan tempatku duduk seolah ingin mempertontonkan bagian paling pribadi miliknya agar terlihat jelas olehku. Tak urung jantungku berdegup lebih kencang dan jakunku turun naik menelan ludah. Betapa tidak, tubuh telanjang Tante Dian kini benar-benar terpampang di hadapanku. Diantara kedua pahanya yang membulat padat, di selangkangannya kulihat memeknya yang menggunduk. Licin tanpa rambut karena habis dicukur. Dan seperti memek Mamaku, bibir luar Memeknya yang berwarna coklat kehitaman tampak berkerut-kerut.

Seperti kebanyakan wanita seusia dengannya, perut Tante Dian sedikit membuncit dan ada lipatan-lipatan di sana. Namun payudaranya yang menggantung dengan putingnya yang menonjol nampak lebih besar ketimbang milik Mamaku. Mama temanku itu hanya tersenyum melihat ulahku yang seperti terpana menatapi bukit Memeknya.

Entah darimana datangnya keberanian itu, tiba-tiba tanganku terulur untuk meraba memek Tante Dian. Hanya sebelum berhasil menyentuh, keraguan seperti menyergap hingga nyaris kuurungkan niatku.

“Ayo Menk pegang saja. Kamu ingin merabanya kan? Sudah lama punya tante nggak ada yang menyentuh lho,” kata Tante Dian melihat keraguanku.

Hangat, itu yang pertama kali kurasakan saat telapak tanganku akhirnya mengusap memek wanita itu. Permukaannya agak kasar, mungkin karena bulu-bulu rambutnya yang habis dicukur. Sedangkan di bagian tengah, di bagian belahannya, daging kenyal yang berkerut-kerut itu terasa lebih hangat. Aku mengelus dan mengusapnya perlahan. Ah, tak kusangka akhirnya aku dapat menjamah Memek Tante Dian yang sudah lama kudambakan.

Sambil tetap duduk, aku terus merabai memek Mama temanku itu. Bahkan jariku mulai mencolek-colek celah diantara bibir Memeknya yang berkerut. Lebih hangat dan terasa agak basah. Sebenarnya aku ingin sekali melihat bentuk kelentitnya. Namun karena Tante Dian berdiri dengan kaki agak merapat, jadi agak sulit untuk dapat melihat kelentitnya dengan leluasa. Untungnya, Tante Dian langsung tanggap. Tanpa kuminta, kaki kanannya diangkat dan ditempatkan di sandaran kursi tempat aku duduk.

Dengan posisi itu, memek Mamanya Farman jadi lebih terpampang di hadapanku dalam jarak yang sangat dekat. Kini bibir Memeknya tampak terbuka lebar. Di bagian dalam warnanya kemerah-merahan. Dan kelentitnya yang ukurannya cukup besar juga terlihat mencuat.

“Pasti kamu ingin lihat itil tante kan? Ayo lihat sepuasmu Menk. Atau jilati sekalian. Tante ingin merasakan jilatan lidahmu,” ujar Tante Dian lagi.

Ia mengatakan itu sambil memegang kepalaku dan menekannya agar mendekati ke selangkangannya. Jadilah wajahku langsung menyentuh memeknya karena tarikan Tante Dian pada kepalaku memang cukup kuat. Saat itulah, aroma yang sangat asing yang belum pernah kukenal sebelumnya membaui hidungku. Bau yang timbul dari lubang memek Mamanya Farman. Bau terasi yang sangat khas tapi membuatku makin terangsang.
Aku jadi ingat segala yang dilakukan Farman pada memek Mamaku. Maka setelah menciumi dengan hidungku untuk menikmati baunya, bibir Memeknya yang berkerut langsung kulahap dan kucerucupi. Bahkan seperti menari, lidahku menjalari setiap inci lubang Memek Tante Dian. Sesekali lidahku menyodok masuk sedalam yang bisa dicapai dan di kesempatan yang lain, ujung lidahku menyapu itilnya. Hasilnya, Tante Dian mulai merintih perlahan. Tampaknya ia mulai merasakan kenikmatan dari tarian lidahku di lubang Memeknya.

“Ahh… sshh … aahh enak banget Menk. Terus sayang, aahh .. ya.. ya enak sayang ahhh,” suara Tante Dian mulai merintih dan mendesis.

Ia juga mulai merabai dan meremasi sendiri payudaranya. Aku jadi makin bersemangat karena yang kulakukan telah membuatnya terangsang. Itil Tente Dian tidak hanya kujilat, tetapi kukecup dan kuhisap-hisap. Sementara bongkahan pantat besarnya juga kuraih dan kuremasi dengan tanganku.

“Auu … enak banget itil tante kamu hisap sayang! Aahh…. sshhh ..ohh… enak banget. Kamu pinter banget Menk,… ahhh ….ssshh …ahhh,” rintihanya makin menjadi.

Cukup lama aku mengobok-obok memek Tante Dian dengan mulut dan lidahku. Memeknya menjadi sangat basah karena dibalur ludahku bercampur dengan cairan Memeknya yang mulai keluar. Akhirnya, mungkin karena kecapaian berdiri atau gairahnya semakin memuncak, ia memintaku untuk menghentikan jilatan dan kecupanku di liang sanggamanya.

“Kalau diterusin bisa bobol deh pertahanan tante,” ujarnya sambil memintaku untuk berganti posisi.

Namun sebelumnya, ia memintaku untuk membuka semua yang masih kukenakan. Bahkan seperti tak sabar, saat aku tengah melepas bajuku ia membantu melepas ikat pinggang dan memelorotkan celana jins yang kukenakan. Termasuk celana dalamku juga dilolosinya.

”Wow… Kontol kamu gede banget Menk! Keras lagi,” seru Tante Dian saat melihat Kontolku telah terbebas dari pembungkusnya.

Dibelai dan di elus-elusnya Kontolku sesaat. Ia sepertinya mengagumi ukuran Kontolku. Lalu ia duduk di kursi tempat aku duduk sebelumnya dengan posisi mengangkang. Kedua kakinya dibukanya lebar-lebar hingga memeknya yang membusung terpampang dengan belahan di bagian tengahnya membuka. Kelentitnya yang mencuat nampak mengintip di sela-sela bibir luar Memeknya yang berkerut-kerut.Tante Dian yang nampaknya jadi tak sabar langsung menarikku mendekat. Dibimbingnya Kontolku diarahkan ke lubang memeknya.

“Dorong dan masukkan Menk Kontolmu. Ih gemes deh, punya kamu besar banget,”.
Tanpa menunggu perintahnya yang kedua kali, aku langsung menekan dan mendorong masuk Kontolku ke lubang memeknya. Tapi, “Woooooopppssss!!!! jangan keras-keras Menk. Bisa jebol nanti memek tante,” pekik Tante Dian.Aku jadi kaget dan berusaha menarik kembali Kontolku namun dicegah olehnya. “Jangan sayang, jangan ditarik. Biarkan masuk tetapi pelan-pelan saja ya,” pintanya.

Seperti yang dimintanya, batang Kontolku yang baru masuk sepertiga bagian kembali kudorong masuk. Namun dorongan yang kulakukan kali ini sangat perlahan. Hasilnya, bukan cuma Tante Dian yang terlihat menikmati sodokan Kontolku di memeknya. Tetapi aku pun merasakan sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa. Kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kenikmatan yang sulit kulukiskan.

Terlebih ketika Kontolku mulai kukeluar masukkan ke dalam lubang nikmat itu. Ah, luar biasa nikmat. Jauh lebih enak menikmati kehangatan memek Tante Dian secara langsung ketimbang hanya membayangkan dan mengocok sendiri dengan tangan. Bagian dalam dinding memek Tante Dian seperti menjepit dan menghisap hingga menimbulkan kenikmatan tiada tara.

“Terus Menk,.. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh!! Kontolmu nikmat banget. Gede dan marem banget. Ah iya Menk, terus EWE memek Tante ya sayang. Ouuuuuhhhhh... ahh.. ahh...” Tante Dian mengerang nikmat.

Mendengar erangannya, aku jadi kian bersemangat me-ngwenya. Apalagi aku melakukannya sambil terus memandangi memeknya yang tengah diterobosi Kontolku. Ternyata, di bibir luar Memek Tante Dian ada sebentuk daging yang menggelambir. Saat batang penisku kudorong masuk, daging menggelambir itu ikut terdorong masuk. Namun saat aku menariknya, bagian tersebut juga ikut keluar. Melihat itu sodokan Kontolku pada lubang kenikmatan tante girang itu kian bersemangat.

“Memek Tante nggak enak ya Menk? Kok dilihatin begitu?” Kata Tante Dian. Rupanya ia memperhatikan ulahku.
“Eee. enak bangat Tante. Sungguh. Memek tante bisa meremas. Saya sangat suka,” ujarku tanpa berterus terang perihal bagian daging yang menggelambir dan menarik perhatianku.
“Bener Menk? Kalau kamu suka, kapanpun kamu boleh entotin terus tante. Tante juga suka banget Kontol kamu sayang. Ooooohhh...ahhh...ehhh... Sshhhhh.. enakk bangat sayang. Ohhh terus Menk, ayo sayang dorong terus lebih dalam. Ahhh… ahh …ah,”

Sambil terus melakukan sodokan ke liang sanggamanya, perhatianku juga tertarik pada payudara Tante Dian yang terlihat terguncang-guncang seiring dengan guncangan tubuhnya. Maka langsung saja kuremas-remas teteknya yang berukuran besar namun agak kendur itu. Sesekali kedua putingnya yang mencuat, berwarna coklat kehitaman kupilin dengan jari-jariku. Alhasil Tante Dian kian kelojotan, desah nafasnya semakin berat dan erangannya semakin menjadi.

Aku menjadi keteter ketika wanita itu mulai melancarkan serangan balik dan menunjukkan kelihaiannya sebagai wanita berusia matang. Ia yang tadinya mengambil sikap pasif dan hanya menikmati setiap sogokan Kontolku di memeknya, mulai menggoyangkan pinggulnya. Goyangannya seakan mengikuti irama sodokan Kontolku di memeknya.

Maka yang kurasakan sungguh di luar perhitunganku. Jepitan dinding Memeknya pada Kontolku terasa semakin menghimpit dan putarannya membuat batang Kontolku serasa digerus dan dihisap.

“Oohh… ohh… sshhh ..ssh ah enak bangat tante. Memek tante enak banget. Sss sa.. saya nggakk.. tahan tante. Ohh… ohhhh,”
“Tahan Menk, tante juga hampir sampai. Ah enak banget… Kontol kamu enak banget Menk. Ah.. sshhh ahh….sshh ahh ahhh,”

Seperti yang diinginkannya, aku berusaha keras menahan jebolnya pertahananku. Namun saat goyangan pantat Tante Dian kian menjadi, berputar dan meliuk-liuk lalu disusul dengan melingkarnya kedua kaki wanita itu ke pinggangku dan menariknya, akhirnya ambrol juga semua yang kutahan. Seperti air bah, air maniku memancar deras dari ujung penis mengguyur bagian dalam memek Mama temanku itu diantara rasa nikmat yang sulit kulukiskan.

“Saya nggak tahan tante, ahh… ssshhh ..ahhh… ah..aakkhhhhhhh,”
Kenikmatan yang kudapat semakin berlipat ketika beberapa detik berselang, memek Tante Dian berkejut-kejut menjepit, meremas dan seperti menghisap dengan keras Kontolku. Rupanya, ia juga telah sampai pada puncak gairahnya.

“Tante juga sampeeeeeeeeeeeeee Menk. Ahh.. sshhh… ohhh …ooohh … aakkkhhh,. Enak bangat Menk,… ahhh,.. akkhhhh …..aaaakkkkhhhhhhhh,” ia merintih keras dan diakhiri dengan erangan panjang.

Tante Dian menciumiku dan memeluk erat tubuhku dalam dekapan hangat tubuhnya yang bermandi keringat setelah puncak kenikmatan yang kami rasakan.

“Tante sangat puas Menk. Sudah lama tante tidak merasakan yang seperti ini. Kalau kamu suka, pintu rumah tante Dian selalu terbuka untuk mu kapan saja, tapi jangan sampai Farman tau ya!” katanya sambil terus memeluk dan menciumiku sampai akhirnya ia mengajakku mandi bersama.

Di hari penuh sejarah itu, setelah makan malam bersama, aku dan Tante Dian kembali merasakan kenikmatan “surga dunia,” permainan panas yang tidak sepantasnya dilakukan. Berkali-kali peju-ku muncrat membasahi liang kenikmatan surga dunia tante Dian dan membuat lemas persendian tulang-tulang ku. Namun, berkali-kali pula Tante Dian mengerang dan merintih oleh entotan Kontolku. Baru saat menjelang pagi kami terkapar kehabisan sisa2 tenaga.

***
Buat Farman, thanks 4all sobs! for memek mama mu dan pelajaran yang kau berikan.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Advertiser


ads by AdXpansion

Most Vistor

Copyright 2010 Foto Nakal - All Rights Reserved.
Designed by Kontol Gede Bokep | Bloggerized by Kontol Gede - | Blog Mas Adit HTML Templates from Herotemplates.com.